datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Matius 6 : 10
Bung Karno, presiden pertama Indonesia, mempunyai gelar Pemimpin Besar Revolusi. Ia pernah mengatakan, “Revolusi tidak pernah selesai” dan mengajak bangsa Indonesia terus mengadakan revolusi -perubahan besar dalam waktu singkat- dalam membangun kekuatan baru. Sesuatu yang jarang kita dengar dewasa ini, karena dewasa ini yang lebih didengungkan adalah reformasi.
Kalimat “Datanglah Kerajaan-MU” dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan TUHAN Yesus sesungguhnya memanggil kita untuk hidup dalam pemerintahan ALLAH. “Datanglah Kerajaan-MU” mengandung panggilan untuk hidup sebagai anak-anak Kerajaan ALLAH. Ini menunjuk panggilan untuk mewujudkan Pemerintahan Kerajaan tersebut dalam hidup pribadi secara individu dan manusia pada umumnya. Seseorang yang hidup dalam pemerintahan Kerajaan TUHAN pasti bergaya hidup berbeda dengan anak-anak dunia yang tidak ber-Kerajaan Surga. Karena itu ciri utama kehidupan orang percaya adalah perubahan. Perubahan inilah yang membuat seseorang berbeda dengan dunia, dan tergiring menjadi semakin sempurna.
Idealnya, sehubungan dengan singkatnya waktu hidup kita di dunia ini, sebisa mungkin perubahan besar ini terjadi dengan cepat atau revolusioner. Ini mungkin jika kita bersungguh-sungguh, tetapi TUHAN tidak memaksa. Ini tergantung respons setiap individu. Apakah kita mau berubah secara revolusioner atau tidak, tergantung kehendak bebas masing-masing orang. Tetapi seperti Bung Karno mengajak Indonesia melakukan revolusi dalam membangun kekuatan barunya, sebaiknya kita mau berubah secara revolusioner, karena dunia ini semakin jahat dengan cepatnya.
Kata revolusi ini sebenarnya agak riskan bila digunakan dalam area teologia Kristen, tetapi berhubung membahas konteks sebuah perubahan hidup secara praktis, maka kata ini terpaksa digunakan. Kata revolusi ini berasal dari kata Inggris “revolution” yang artinya “penggulingan pemerintahan atau sistem politik untuk kemudian mendirikan sistem baru” atau “perubahan yang luas dan dramatis”. Bila kata revolusi ini dikenakan dalam kehidupan orang percaya maksudnya adalah untuk menjelaskan realitas perubahan kehidupan orang percaya. Kita menggulingkan pemerintahan “si aku” dan menggantikannya dengan pemerintahan TUHAN atas kehidupan kita. Perubahan ini mutlak harus terjadi dalam kehidupan setiap orang yang ditebus oleh darah Yesus, sebab orang yang telah ditebus oleh darah Yesus menjadi milik TUHAN. Karena TUHAN yang memilikinya, maka pemerintahan kehidupannya harus di bawah otoritas TUHAN, sehingga kita bisa berkata “Datanglah Kerajaan-MU”.
Baca: Keluaran 14:15–28
Tuhan menghendaki agar kita membangun kerajaan Tuhan atau menghadirkan kerajaan Tuhan, artinya suasana pemerintahan Allah harus hadir dalam hidup kita. Karena itu kita harus membiasakan diri memercayai Tuhan dan pemerintahan-Nya yang tidak kelihatan secara kasat mata.
Tuhan melatih bangsa Israel untuk mengenal Tuhan, kekuatan dan pemerintahan-Nya. Melalui pengalaman di tepi Laut Teberau, Tuhan menunjukkan kehadiran kuasa dan pemerintahan-Nya. Ketika Laut Teberau terbelah, maka mereka tercelik untuk melihat kuasa pemerintahan Allah. Tuhan juga membiarkan orang-orang Mesir mengejar mereka ke tengah laut yang terbelah, sehingga orang-orang Mesir dicampakkan-Nya ke tengah laut ketika air laut itu berbalik. Di sini tampak fakta pemerintahan dan kedaulatan Tuhan dalam hidup bangsa Israel.
Menjadi orang percaya berarti kita menjadi manusia yang hidup dalam pemerintahan Tuhan. Ternyata untuk memiliki keyakinan yang benar mengenai hal ini bukan sesuatu yang mudah, sebab pemerintahan Tuhan ini tidak kelihatan. Kita sudah terbiasa memercayai apa yang kelihatan. Banyak orang beranggapan bahwa keyakinan ini hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang berkarunia khusus, padahal kenyataannya tidak. Keyakinan ini merupakan hal biasa yang memang harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Untuk ini kita harus mengembangkan keyakinan tersebut.
Untuk mengembangkan keyakinan itu, kita harus membangun suasana jiwa yang dikuasai oleh kerinduan terhadap perkara-perkara surgawi yaitu penghargaan kepada nilai-nilai kekekalan. Untuk ini Tuhan Yesus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi… Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di Surga” (Mat. 6:19–20). Banyak orang salah mengerti terhadap maksud ayat ini. Sekilas ayat ini pengertiannya mudah, tetapi sebenarnya tidak. Maksud ayat ini adalah bahwa kita harus melatih diri tidak terikat dengan hal-hal duniawi. Keterikatan terhadap hal-hal duniawi membuat kita tidak menghargai nilai-nilai kekekalan. Dan tidak menghargai nilai-nilai kekekalan berakibat kita tidak memercayai pemerintahan Tuhan yang tidak kelihatan.
Sebagaimana Ia pernah menghadirkan pemerintahan-Nya di tengah umat Israel, Ia ingin kita menghadirkan pemerintahan-Nya itu dalam hidup kita. Caranya dengan percaya kepada-Nya, taat kepada Firman-Nya, dan mempunyai cara hidup sebagaimana layaknya seorang ahli waris Kerajaan Surga. Solagracia
7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. 2 Timotius 4:7-8
Pukul 7 malam tanggal 20 Oktober 1968, hanya beberapa penonton yang tersisa di Stadion Olimpiade Mexico City, dalam nomor lari maraton di Olimpiade ke-19. Pemenangnya sudah melewati garis finis lebih dari satu jam yang lalu, dan pelari-pelari terakhir pun sudah tiba dan meninggalkan lintasan. Para penonton yang masih tersisa mulai beranjak pergi, ketika sirene tiba-tiba berbunyi. Seorang pelari terakhir masuk ke stadion dengan terpincang-pincang. Kakinya dibalut dan masih bercucuran darah akibat kecelakaan di pertandingan. Namanya John Stephen Akhwari dari Tanzania. Saat dengan menahan sakit ia mencapai garis finis, para penonton pun berdiri, bertepuk tangan dan bersorak sorai, seakan-akan dialah pemenangnya. Seorang penonton bertanya kepada Akhwari, mengapa ia tidak berhenti saja ketika ia terluka, dan tidak mungkin mendapatkan medali. Akhwari menjawab, “Negara saya tidak mengirimkan saya sejauh 7000 mil untuk memulai pertandingan, tetapi mengirimkan saya sejauh 7000 mil untuk mengakhirinya.”
Sebagai anak-anak Tuhan, kita juga diikutsertakan-Nya dalam pertandingan yang wajib bagi kita (Ibr. 12:1). Dan Tuhan Yesus mengikutsertakan kita ke dalam pertandingan ini bukan hanya untuk memulainya, tetapi yang terpenting, untuk mengakhirinya dengan baik.
Dalam hal ini, Rasul Paulus memberi teladan kepada kita. Pertama, ia mengatakan bahwa ia telah mengakhiri pertandingan dengan baik. Maksudnya, ia telah menang dalam perjuangannya melawan Iblis, dunia, dosa, dan kedagingan. Kedua, ia telah mencapai garis akhir. Ia telah mencapai tujuan akhir dalam maraton hidup, menjalankan kehendak Tuhan. Kekristenan bukanlah lari sprint (jarak pendek), melainkan maraton. Sebagai lari jarak jauh (42,195 km) maraton membutuhkan stamina yang sangat tinggi, latihan yang sangat berat, dan kegigihan yang luar biasa. Kebanyakan pelari tidak berusaha untuk menang. Mereka hanya berusaha mencapai garis finis, karena itu pun sangat sulit dicapai. Ketiga, Paulus telah memelihara iman. Ia tetap setia kepada Majikan Agungnya dan Injil yang murni, sesuai dengan yang diikrarkannya.
Sebagai hadiahnya, Tuhan telah menyediakan mahkota kebenaran (ay. 8). Dan itu bukan hanya untuk Paulus, melainkan untuk kita juga, asalkan kita merindukan kedatangan Tuhan, yang dibuktikan dengan mengikuti teladan Paulus: dengan gigih dan pantang menyerah terus berlari hingga kita mengakhiri pertandingan dengan baik, mencapai garis akhir dan memelihara iman. Solagracia
Roma 8:1-17
Rasul Paulus mengatakan bahwa kita harus memilih apakah hidup di dalam pimpinan daging atau Roh. Apa pun juga segi dan aspek di dalam hidup kita, jika itu bersumber kepada daging, berarti kita belum hidup menurut Roh Allah dan berarti belum layak menyebut diri anak Allah.
Pengertian ini merupakan kunci untuk menjelaskan mengapa Tuhan Yesus mempunyai dua orang murid yang sama-sama diajar oleh Tuhan, memiliki dasardasar teologi dari sumber yang sama, dalam periode waktu yang sama dan kualitas ajaran yang sama, namun hasilnya berbeda. Petrus, murid yang menyangkal Yesus tiga kali belakangan menjadi seorang rasul yang luar biasa (Kis. 2–3). Sungguh tidak dapat kita duga, seorang yang nampak kurang “nyambung” dengan Tuhan Yesus, menjadi pribadi yang unggul di kemudian hari. Akhirnya, menurut sejarah gereja, Petrus meninggal disalib dengan kepala dibawah. Itulah permohonan yang diajukannya karena ia tidak merasa layak untuk mati dan disalib seperti Tuhan Yesus.
Bandingkan dengan Yudas Iskariot. Ia menjual Yesus dengan 30 keping perak (Mat. 26:15) dan kemudian menggantung dirinya (Mat. 27:5). Ia tidak mengerti bahwa sekalipun bersalah, Tuhan mau mengampuninya dan ia masih bisa dipakai Tuhan seperti Petrus dan murid-murid yang lain. Mungkin kita luput untuk menyimak kisah kecil di Yoh. 12:4–6, bahwa Yudas sering mencuri uang kas. Jadi memang Yudas tidak berjuang untuk hidup dipimpin oleh Roh, sebab kesehariannya dipenuhi oleh keinginan daging. Ini berbeda dengan proses perubahan di dalam diri Petrus ketika diterangi oleh kebenaran.
Jadi masalahnya bukan terletak kepada kesalahan yang dilakukan Petrus maupun Yudas, namun pada kerelaan untuk berubah, bertobat dan belajar dipimpin oleh Roh. Petrus telah berhasil untuk bertobat. Hasilnya luar biasa: “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.” (Kis. 4:13) Yudas menyesal, Petrus juga. Namun Yudas tidak bertobat dan berbalik, sementara Petrus berbalik dan berubah. Banyak orang menyesal karena berdosa, namun seharusnya melakukan langkah berikutnya yaitu berbalik dan bertobat, itulah esensi hidup dipimpin oleh Roh. Yaitu tidak menyisakan sedikit pun porsi hidup untuk dipimpin oleh daging.
Source: http://www.truth-media.com/truth-29-maret-2010-penyesalan-tak-sama-dengan-pertobatan
Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” (Pkh. 12:1)
PIKIRAN adalah komponen penting dalam diri manusia yang diciptakan Tuhan. Ia menghendaki agar kita menggunakannya secara maksimal bagi-Nya. Menurut John Horgan, seorang penulis ilmiah, pikiran ada di dalam otak yang mengandung 100 milyar sel syaraf, hampir sama banyaknya dengan jumlah bintang-bintang di galaksi Bimasakti. Dan tiap sel syaraf dihubungkan oleh sinapsis kepada seratus ribu sel lainnya. Kemampuan otak manusia untuk berpikir nyaris tanpa batas. Kemampuan yang luar biasa ini harus dimanfaatkan dan dikembangkan selagi masih ada kesempatan dan selagi masih efektif, sebab usia akan membatasi kemampuannya.
Itulah sebabnya Pengkhotbah menyatakan, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu”. Kata “ingatlah” dalam teks aslinya (zâ kar) yang juga berarti “mengenali”. “Pada masa muda” artinya “sejak dini”. Ini bukan hanya berbicara mengenai kesempatan. Masa muda adalah saat anak manusia memiliki kondisi prima. Pada kondisi ini, manusia dapat lebih efektif mengenal Tuhan. Banyak orang berpikir bahwa mengenali Tuhan bisa “dikebut” atau dikompres (diringkas waktunya). Ini salah. Waktu sangat berperan dalam pertumbuhan pengenalan akan Tuhan, sebab pengenalan selalu melalui proses bertahap.
Seseorang yang terus berlatih mengerjakan soal-soal matematika akan makin cepat dan tepat menyelesaikan soal-soal tersebut. Seseorang yang biasa menggunakan pikirannya untuk menggumuli suatu bidang akan makin ahli di bidang tersebut. Analisisnya tajam, cerdas dan unggul. Demikian pula kalau seseorang menggunakan pikirannya terus-menerus untuk memikirkan Tuhan. Pikirannya menjadi terlatih untuk memahami Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa orang percaya harus merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (Mzm. 1:2). Itu berarti mengaktifkan pikiran untuk mengerti Firman Tuhan. Tuhan memerintahkan kita untuk membarui pikiran kita (Rm. 12:2); jelas sekali ini menunjuk potensi pikiran yang harus diaktifkan setiap hari. Penggunaan pikiran untuk memahami Tuhan melalui kebenaran Firman-Nya harus diselenggarakan secara maksimal. Inilah yang dikehendaki Tuhan, yaitu mengasihi Dia dengan segenap akal budi (Mat. 22:37). Solagracia.

