Oct 232011

datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Matius 6 : 10

Bung Karno, presiden pertama Indonesia, mempunyai gelar Pemimpin Besar Revolusi. Ia pernah mengatakan, “Revolusi tidak pernah selesai” dan mengajak bangsa Indonesia terus mengadakan revolusi -perubahan besar dalam waktu singkat- dalam membangun kekuatan baru. Sesuatu yang jarang kita dengar dewasa ini, karena dewasa ini yang lebih didengungkan adalah reformasi.

Kalimat “Datanglah Kerajaan-MU” dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan TUHAN Yesus sesungguhnya memanggil kita untuk hidup dalam pemerintahan ALLAH. “Datanglah Kerajaan-MU” mengandung panggilan untuk hidup sebagai anak-anak Kerajaan ALLAH. Ini menunjuk panggilan untuk mewujudkan Pemerintahan Kerajaan tersebut dalam hidup pribadi secara individu dan manusia pada umumnya. Seseorang yang hidup dalam pemerintahan Kerajaan TUHAN pasti bergaya hidup berbeda dengan anak-anak dunia yang tidak ber-Kerajaan Surga. Karena itu ciri utama kehidupan orang percaya adalah perubahan. Perubahan inilah yang membuat seseorang berbeda dengan dunia, dan tergiring menjadi semakin sempurna.

Idealnya, sehubungan dengan singkatnya waktu hidup kita di dunia ini, sebisa mungkin perubahan besar ini terjadi dengan cepat atau revolusioner. Ini mungkin jika kita bersungguh-sungguh, tetapi TUHAN tidak memaksa. Ini tergantung respons setiap individu. Apakah kita mau berubah secara revolusioner atau tidak, tergantung kehendak bebas masing-masing orang. Tetapi seperti Bung Karno mengajak Indonesia melakukan revolusi dalam membangun kekuatan barunya, sebaiknya kita mau berubah secara revolusioner, karena dunia ini semakin jahat dengan cepatnya.

Kata revolusi ini sebenarnya agak riskan bila digunakan dalam area teologia Kristen, tetapi berhubung membahas konteks sebuah perubahan hidup secara praktis, maka kata ini terpaksa digunakan. Kata revolusi ini berasal dari kata Inggris “revolution” yang artinya “penggulingan pemerintahan atau sistem politik untuk kemudian mendirikan sistem baru” atau “perubahan yang luas dan dramatis”. Bila kata revolusi ini dikenakan dalam kehidupan orang percaya maksudnya adalah untuk menjelaskan realitas perubahan kehidupan orang percaya. Kita menggulingkan pemerintahan “si aku” dan menggantikannya dengan pemerintahan TUHAN atas kehidupan kita. Perubahan ini mutlak harus terjadi dalam kehidupan setiap orang yang ditebus oleh darah Yesus, sebab orang yang telah ditebus oleh darah Yesus menjadi milik TUHAN. Karena TUHAN yang memilikinya, maka pemerintahan kehidupannya harus di bawah otoritas TUHAN, sehingga kita bisa berkata “Datanglah Kerajaan-MU”.

Baca: Keluaran 14:15–28

Chair of St Peter in AntiochTuhan menghendaki agar kita membangun kerajaan Tuhan atau menghadirkan kerajaan Tuhan, artinya suasana pemerintahan Allah harus hadir dalam hidup kita. Karena itu kita harus membiasakan diri memercayai Tuhan dan pemerintahan-Nya yang tidak kelihatan secara kasat mata.

Tuhan melatih bangsa Israel untuk mengenal Tuhan, kekuatan dan pemerintahan-Nya. Melalui pengalaman di tepi Laut Teberau, Tuhan menunjukkan kehadiran kuasa dan pemerintahan-Nya. Ketika Laut Teberau terbelah, maka mereka tercelik untuk melihat kuasa pemerintahan Allah. Tuhan juga membiarkan orang-orang Mesir mengejar mereka ke tengah laut yang terbelah, sehingga orang-orang Mesir dicampakkan-Nya ke tengah laut ketika air laut itu berbalik. Di sini tampak fakta pemerintahan dan kedaulatan Tuhan dalam hidup bangsa Israel.

Menjadi orang percaya berarti kita menjadi manusia yang hidup dalam pemerintahan Tuhan. Ternyata untuk memiliki keyakinan yang benar mengenai hal ini bukan sesuatu yang mudah, sebab pemerintahan Tuhan ini tidak kelihatan. Kita sudah terbiasa memercayai apa yang kelihatan. Banyak orang beranggapan bahwa keyakinan ini hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang berkarunia khusus, padahal kenyataannya tidak. Keyakinan ini merupakan hal biasa yang memang harus dimiliki oleh setiap orang percaya. Untuk ini kita harus mengembangkan keyakinan tersebut.

Untuk mengembangkan keyakinan itu, kita harus membangun suasana jiwa yang dikuasai oleh kerinduan terhadap perkara-perkara surgawi yaitu penghargaan kepada nilai-nilai kekekalan. Untuk ini Tuhan Yesus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi… Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di Surga” (Mat. 6:19–20). Banyak orang salah mengerti terhadap maksud ayat ini. Sekilas ayat ini pengertiannya mudah, tetapi sebenarnya tidak. Maksud ayat ini adalah bahwa kita harus melatih diri tidak terikat dengan hal-hal duniawi. Keterikatan terhadap hal-hal duniawi membuat kita tidak menghargai nilai-nilai kekekalan. Dan tidak menghargai nilai-nilai kekekalan berakibat kita tidak memercayai pemerintahan Tuhan yang tidak kelihatan.
Sebagaimana Ia pernah menghadirkan pemerintahan-Nya di tengah umat Israel, Ia ingin kita menghadirkan pemerintahan-Nya itu dalam hidup kita. Caranya dengan percaya kepada-Nya, taat kepada Firman-Nya, dan mempunyai cara hidup sebagaimana layaknya seorang ahli waris Kerajaan Surga. Solagracia

7 Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
8 Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. 2 Timotius 4:7-8

RacePukul 7  malam tanggal 20 Oktober 1968, hanya beberapa penonton yang tersisa di Stadion Olimpiade Mexico City, dalam nomor lari maraton di Olimpiade ke-19. Pemenangnya sudah melewati garis finis lebih dari satu jam yang lalu, dan pelari-pelari terakhir pun sudah tiba dan meninggalkan lintasan. Para penonton yang masih tersisa mulai beranjak pergi, ketika sirene tiba-tiba berbunyi. Seorang pelari terakhir masuk ke stadion dengan terpincang-pincang. Kakinya dibalut dan masih bercucuran darah akibat kecelakaan di pertandingan. Namanya John Stephen Akhwari dari Tanzania. Saat dengan menahan sakit ia mencapai garis finis, para penonton pun berdiri, bertepuk tangan dan bersorak sorai, seakan-akan dialah pemenangnya. Seorang penonton bertanya kepada Akhwari, mengapa ia tidak berhenti saja ketika ia terluka, dan tidak mungkin mendapatkan medali. Akhwari menjawab, “Negara saya tidak mengirimkan saya sejauh 7000 mil untuk memulai pertandingan, tetapi mengirimkan saya sejauh 7000 mil untuk mengakhirinya.”

Sebagai anak-anak Tuhan, kita juga diikutsertakan-Nya dalam pertandingan yang wajib bagi kita (Ibr. 12:1). Dan Tuhan Yesus mengikutsertakan kita ke dalam pertandingan ini bukan hanya untuk memulainya, tetapi yang terpenting, untuk mengakhirinya dengan baik.

Dalam hal ini, Rasul Paulus memberi teladan kepada kita. Pertama, ia mengatakan bahwa ia telah mengakhiri pertandingan dengan baik. Maksudnya, ia telah menang dalam perjuangannya melawan Iblis, dunia, dosa, dan kedagingan. Kedua, ia telah mencapai garis akhir. Ia telah mencapai tujuan akhir dalam maraton hidup, menjalankan kehendak Tuhan. Kekristenan bukanlah lari sprint (jarak pendek), melainkan maraton. Sebagai lari jarak jauh (42,195 km) maraton membutuhkan stamina yang sangat tinggi, latihan yang sangat berat, dan kegigihan yang luar biasa. Kebanyakan pelari tidak berusaha untuk menang. Mereka hanya berusaha mencapai garis finis, karena itu pun sangat sulit dicapai. Ketiga, Paulus telah memelihara iman. Ia tetap setia kepada Majikan Agungnya dan Injil yang murni, sesuai dengan yang diikrarkannya.

Sebagai hadiahnya, Tuhan telah menyediakan mahkota kebenaran (ay. 8). Dan itu bukan hanya untuk Paulus, melainkan untuk kita juga, asalkan kita merindukan kedatangan Tuhan, yang dibuktikan dengan mengikuti teladan Paulus: dengan gigih dan pantang menyerah terus berlari hingga kita mengakhiri pertandingan dengan baik, mencapai garis akhir dan memelihara iman. Solagracia

Roma 8:1-17

RegretRasul Paulus mengatakan bahwa kita harus memilih apakah hidup di dalam pimpinan daging atau Roh. Apa pun juga segi dan aspek di dalam hidup kita, jika itu bersumber kepada daging, berarti kita belum hidup menurut Roh Allah dan berarti belum layak menyebut diri anak Allah.

Pengertian ini merupakan kunci untuk menjelaskan mengapa Tuhan Yesus mempunyai dua orang murid yang sama-sama diajar oleh Tuhan, memiliki dasardasar teologi dari sumber yang sama, dalam periode waktu yang sama dan kualitas ajaran yang sama, namun hasilnya berbeda. Petrus, murid yang menyangkal Yesus tiga kali belakangan menjadi seorang rasul yang luar biasa (Kis. 2–3). Sungguh tidak dapat kita duga, seorang yang nampak kurang “nyambung” dengan Tuhan Yesus, menjadi pribadi yang unggul di kemudian hari. Akhirnya, menurut sejarah gereja, Petrus meninggal disalib dengan kepala dibawah. Itulah permohonan yang diajukannya karena ia tidak merasa layak untuk mati dan disalib seperti Tuhan Yesus.

Bandingkan dengan Yudas Iskariot. Ia menjual Yesus dengan 30 keping perak (Mat. 26:15) dan kemudian menggantung dirinya (Mat. 27:5). Ia tidak mengerti bahwa sekalipun bersalah, Tuhan mau mengampuninya dan ia masih bisa dipakai Tuhan seperti Petrus dan murid-murid yang lain. Mungkin kita luput untuk menyimak kisah kecil di Yoh. 12:4–6, bahwa Yudas sering mencuri uang kas. Jadi memang Yudas tidak berjuang untuk hidup dipimpin oleh Roh, sebab kesehariannya dipenuhi oleh keinginan daging. Ini berbeda dengan proses perubahan di dalam diri Petrus ketika diterangi oleh kebenaran.

Jadi masalahnya bukan terletak kepada kesalahan yang dilakukan Petrus maupun Yudas, namun pada kerelaan untuk berubah, bertobat dan belajar dipimpin oleh Roh. Petrus telah berhasil untuk bertobat. Hasilnya luar biasa: “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.” (Kis. 4:13) Yudas menyesal, Petrus juga. Namun Yudas tidak bertobat dan berbalik, sementara Petrus berbalik dan berubah. Banyak orang menyesal karena berdosa, namun seharusnya melakukan langkah berikutnya yaitu berbalik dan bertobat, itulah esensi hidup dipimpin oleh Roh. Yaitu tidak menyisakan sedikit pun porsi hidup untuk dipimpin oleh daging.

Source: http://www.truth-media.com/truth-29-maret-2010-penyesalan-tak-sama-dengan-pertobatan

Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!”  (Pkh. 12:1)

PIKIRAN adalah komponen penting dalam diri manusia yang diciptakan Tuhan. Ia menghendaki agar kita menggunakannya secara maksimal bagi-Nya. Menurut John Horgan, seorang penulis ilmiah, pikiran ada di dalam otak yang mengandung 100 milyar sel syaraf, hampir sama banyaknya dengan jumlah bintang-bintang di galaksi Bimasakti. Dan tiap sel syaraf dihubungkan oleh sinapsis kepada seratus ribu sel lainnya. Kemampuan otak manusia untuk berpikir nyaris tanpa batas. Kemampuan yang luar biasa ini harus dimanfaatkan dan dikembangkan selagi masih ada kesempatan dan selagi masih efektif, sebab usia akan membatasi kemampuannya.

Itulah sebabnya Pengkhotbah menyatakan, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu”. Kata “ingatlah” dalam teks aslinya (zâ kar) yang juga berarti “mengenali”. “Pada masa muda” artinya “sejak dini”. Ini bukan hanya berbicara mengenai kesempatan. Masa muda adalah saat anak manusia memiliki kondisi  prima. Pada kondisi ini, manusia dapat lebih efektif mengenal Tuhan. Banyak orang berpikir bahwa mengenali Tuhan bisa “dikebut” atau dikompres (diringkas waktunya). Ini salah. Waktu sangat berperan dalam pertumbuhan pengenalan akan Tuhan, sebab pengenalan selalu melalui proses bertahap.

Seseorang yang terus berlatih mengerjakan soal-soal matematika akan makin cepat dan tepat menyelesaikan soal-soal tersebut. Seseorang yang biasa menggunakan pikirannya untuk menggumuli suatu bidang akan makin ahli di bidang tersebut. Analisisnya tajam, cerdas dan unggul. Demikian pula kalau seseorang menggunakan pikirannya terus-menerus untuk memikirkan Tuhan. Pikirannya menjadi terlatih untuk memahami Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa orang percaya harus merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (Mzm. 1:2). Itu berarti mengaktifkan pikiran untuk mengerti Firman Tuhan. Tuhan memerintahkan kita untuk membarui pikiran kita (Rm. 12:2); jelas sekali ini menunjuk potensi pikiran yang harus diaktifkan setiap hari. Penggunaan pikiran untuk memahami  Tuhan melalui kebenaran Firman-Nya harus diselenggarakan secara maksimal. Inilah yang dikehendaki Tuhan, yaitu mengasihi Dia dengan segenap akal budi (Mat. 22:37). Solagracia.

Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya (2Kor. 5:9)

 

GiftKalau kita ditanya dan harus langsung menjawab dalam tempo dua detik, “Apakah yang paling Saudara harapkan terjadi dalam hidup Saudara,” apa jawaban kita? Barangkali sebagian besar dari kita bingung, bagaimana menjawab pertanyaan ini. Bila demikian, ini berarti hidup kita belum mempunyai tujuan yang jelas. Kehidupan kita dari hari ke hari tanpa makna. Kalau kita menjawab dengan cepat, jawaban tersebut kemungkinan besar atau hampir pasti adalah jawaban yang jujur, sebab waktu yang singkat tidak memungkinkan kita mengarang jawabannya. Itu adalah arti atau tujuan hidup kita, atau sesuatu yang selama ini memengaruhi atau menguasai kehidupan kita; sesuatu yang mencengkeram hati kita.

Ini sama dengan kalau seseorang mempertaruhkan uangnya dalam jumlah besar untuk suatu bisnis, dan ternyata belum ada tanda-tanda usahanya menghasilkan sesuatu yang menggembirakan. Siang malam ia memikirkan hal tersebut, masalah tersebut telah menyita seluruh potensi dan perhatian hidupnya. Bila ia ditanya dengan pertanyaan di atas, maka jawabnya adalah supaya uangnya kembali atau bisnisnya berhasil.

Seseorang yang menantikan jawaban keputusan Mahakamah Agung untuk suatu perkara yang menentukan hidup atau matinya, siang malam pikirannya tertuju kepada hal tersebut. Bila ia ditanya dengan pertanyaan di atas, maka jawabnya adalah agar segera keluar keputusan Mahkamah Agung yang menggembirakan.

Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Abraham dan ia harus menjawab dalam tempo dua detik, maka jawabannya akan cepat muncul yaitu menemukan negeri yang dijanjikan Tuhan, yang oleh karenanya ia meninggalkan Ur-kasdim (Kej. 12:1–3). Mengapa? Sebab hidupnya telah dirampas habis oleh tujuan hidup itu. Seluruh potensi dan perhatian hidupnya ditujukan kepada hal ini semata-mata. Pikiran Abraham pasti tertuju kepada hal tersebut sepenuhnya, karena ia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk hal tersebut, yaitu menemukan negeri yang Tuhan tunjukkan. Selama itu pasti banyak orang menganggap Abraham bodoh, ngawur dan sulit dipahami. Tetapi Abraham berkeras menemukan negeri itu, dan hidupnya berubah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memiliki obsesi yang jelas dan tegas untuk berkenan kepada Tuhan Yesus dalam pengiringan kepada-Nya?

Solagracia.

 

Baby handSetiap individu sangat berharga di hadapan Tuhan. Keberhargaan itu ditunjukkan oleh Daud dalam Mazmurnya, bahwa Tuhan sendiri yang membentuk setiap individu menjadi sosok manusia dengan kompleksitasnya, baik secara fisik—tubuh kita meliputi organ-organ kita—dan psikis—watak, kepribadian serta talenta kita.

Kejadian kita yang dahsyat dan ajaib dibuat oleh kuasa dan hikmat Allah yang tak terbatas. Kata “dahsyat” di ay. 14 dalam bahasa aslinya ditulis יָרֵא (yârê) yang juga berarti “menakutkan”. Kedahsyatan kita harus memberikan kesadaran bahwa sekalipun luar biasa, kita juga adalah makhluk yang ringkih, dibayang-bayangi kematian; ini mengajar kita untuk bergantung kepada Allah yang senantiasa menjaga kita, dan selalu mengarahkan hati kita kepada kehidupan abadi yang dianugerahkan-Nya.

Kata “ajaib” dalam bahasa aslinya ditulis פָּלָה (pâlâh) yang berarti “lain daripada yang lain”. Ini menunjukkan keistimewaan kita dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain. Tuhan menciptakan semua orang secara unik, dan tidak ada dua orang pun yang persis sama di sepanjang zaman, sekalipun mereka kembar identik.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa Tuhan pasti sangat memperhatikan kita, sebab kita berharga di hadapan-Nya. Dengan pemahaman mengenai hal ini, kita harus membuka mata pengertian dan kesadaran kita agar kita menghargai kehidupan ini secara benar, baik kehidupan kita sendiri, maupun kehidupan orang lain. Kita harus belajar mengasihi diri kita sendiri dengan benar, baru selanjutnya kita belajar mengasihi sesama manusia dengan standar yang sama (Mrk. 12:31), tanpa membedakan strata sosial ekonomi, pendidikan, suku bangsa, dan lainnya.

Dalam karya penciptaan Tuhan atas setiap kita, tentu Ia memiliki rencana. Ia hendak menjadikan kita bernilai tinggi bagi-Nya, bagi lingkungan kita, dan bagi diri kita sendiri. Keberadaan dan kehadiran kita bukan hanya menggenapi atau melengkapi keinginan orang tua kita untuk memiliki keturunan, melainkan merupakan bagian dari skenario besar Tuhan, bahwa masing-masing kita adalah bagian dari lukisan indah warga kerajaan Allah yang kekal.

Karena itu gunakanlah kesempatan kita dalam hidup ini untuk dibentuk Tuhan menjadi pribadi yang istimewa untuk menggenapi rencana-Nya, sebab Ia juga menginginkan kita menjadi mulia seperti Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus di kekekalan nanti (Rm. 8:28–30).  Solagracia

 

The Parable of LazarusKembali ke kisah Lazarus dan orang kaya (Luk. 16:19–31), penyebab utama mengapa si orang kaya dan keluarganya tidak peduli terhadap kesaksian Musa dan para nabi adalah sebab mereka menikmati kenikmatan dunia tanpa memedulikan orang lain. Dalam hal ini, kenikmatan dunia menjadi ikatan sehingga seseorang kehilangan kasih terhadap sesama. Orang yang terikat dengan percintaan dunia akan menghabiskan niatnya untuk segala hal yang bertalian dengan kenikmatan hidup di bumi. Itulah sebabnya Abraham berkata kepada orang kaya itu: “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.” Pernyataan Abraham ini bukan berarti kekayaan atau kenikmatan hidup membuat seseorang masuk neraka. Yang membuat seseorang masuk neraka adalah egoisme, dimana seseorang mementingkan diri sendiri sehingga melupakan tanggung jawab.

Banyak orang ingin kaya. Mereka tidak tahu bahwa seorang yang dipercayai dengan harta yang berlimpah memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Bila tanggung jawab tersebut tidak ditunaikan, maka risikonya sangat besar. Adalah bijaksana kalau kita belajar menyerah kepada Tuhan, mohon hikmat agar bila Tuhan memercayakan harta materi kepada kita di bumi ini, kita dapat mengelolanya secara bertanggung jawab agar harta tersebut tidak membinasakan.

Pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah: mengapa orang kaya masuk neraka sedang lazarus masuk Surga? Kebaikan apakah yang dimiliki Lazarus sehingga dilayakkan masuk Surga? Dan kesalahan apakah yang ada pada orang kaya sehingga ia masuk neraka?

Kepada Lazarus tidak dituntut untuk melakukan apa yang ia tidak dapat lakukan, tetapi kepada orang kaya ia dituntut untuk berbuat apa yang ia harus lakukan. Kekayaan yang diberikan Tuhan kepada seseorang memuat tanggung jawab. Bahkan apa pun yang Tuhan berikan kepada kita memuat tanggung jawab. Luk.16:12 menjelaskan bahwa kalau seseorang tidak setia dengan harta Tuhan (harta orang lain) maka Tuhan tidak akan memberikan hartanya sendiri. Hartanya sendiri adalah harta di surga. Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa ketika Tuhan Yesus menebus kita, maka kita bukan lagi milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Adapun harta kita adalah Tuhan sendiri, dan kemuliaan yang kita akan terima bersama dengan Tuhan Yesus di Kerajaan-Nya. Solagracia

 

Through Christ, God has accepted you. Think about what this means. You cannot keep people from rejecting you. But you can keep rejections from enraging you.

Rejections are like speed bumps on the road. They come with the journey. You’re going to get cut, dished, dropped, and kicked around. You cannot keep people from rejecting you. But you can keep rejections from enraging you. How? By letting his acceptance compensate for their rejection.

Think of it this way. Suppose you dwell in a high-rise apartment. On the window sill of your room is a solitary daisy. This morning you picked the daisy and pinned it on your lapel. Since you have only one plant, this is a big event and a special daisy.

But as soon as you’re out the door, people start picking petals off your daisy. Someone snags your subway seat. Petal picked. You’re blamed for the bad report of a coworker. Three petals. The promotion is given to someone with less experience but USC water polo looks. More petals. By the end of the day, you’re down to one. Woe be to the soul who dares to draw near it. You’re only one petal-snatching away from a blowup.

What if the scenario was altered slightly? Let’s add one character. The kind man in the apartment next door runs a flower shop on the corner. Every night on the way home he stops at your place with a fresh, undeserved, yet irresistible bouquet. These are not leftover flowers. They are top-of-the-line arrangements. You don’t know why he thinks so highly of you, but you aren’t complaining. Because of him, your apartment has a sweet fragrance, and your step has a happy bounce. Let someone mess with your flower, and you’ve got a basketful to replace it!

The difference is huge. And the interpretation is obvious.

God will load your world with flowers. He hand-delivers a bouquet to your door every day. Open it! Take them! Then, when rejections come, you won’t be left short-petaled.

God can help you get rid of your anger. He made galaxies no one has ever seen and dug canyons we have yet to find. “The LORD … heals all your diseases” (Ps. 103:2–3 NIV). Do you think among those diseases might be the affliction of anger?

Do you think God could heal your angry heart?

Do you want him to? This is not a trick question. He asks the same question of you that he asked of the invalid: “Do you want to be well?” (John 5:6). Not everyone does. You may be addicted to anger. You may be a rage junkie. Anger may be part of your identity. But if you want him to, he can change your identity. Do you want him to do so?

Do you have a better option? Like moving to a rejection-free zone? If so, enjoy your life on your desert island.

Take the flowers. Receive from him so you can love or at least put up with others.

My dog Molly and I aren’t getting along. The problem is not her personality. A sweeter mutt you will not find. She sees every person as a friend and every day as a holiday. I have no problem with Molly’s attitude. I have a problem with her habits.

Eating scraps out of the trash. Licking dirty plates in the dishwasher. Dropping dead birds on our sidewalk and stealing bones from the neighbor’s dog. Shameful! Molly rolls in the grass, chews on her paw, does her business in the wrong places, and, I’m embarrassed to admit, quenches her thirst in the toilet.

Now what kind of behavior is that?

Dog behavior, you reply.

You are right. So right. Molly’s problem is not a Molly problem. Molly has a dog problem. It is a dog’s nature to do such things. And it is her nature that I wish to change. Not just her behavior, mind you. A canine obedience school can change what she does; I want to go deeper. I want to change who she is.

Here is my idea: a me-to-her transfusion. The deposit of a Max seed in Molly. I want to give her a kernel of human character. As it grew, would she not change? Her human nature would develop, and her dog nature would diminish. We would witness, not just a change of habits, but a change of essence. In time Molly would
be less like Molly and more like me, sharing my disgust for trash snacking, potty slurping, and dish licking. She would have a new nature. Why, Denalyn might even let her eat at the table.

You think the plan is crazy? Then take it up with God. The idea is his.

What I would like to do with Molly, God does with us. He changes our nature from the inside out! “I will put a new way of thinking inside you. I will take out the stubborn hearts of stone from your bodies, and I will give you obedient hearts of flesh. I will put my Spirit inside you and help you live by my rules and carefully obey my laws” (Ezek. 36:26–27 NCV.).

God doesn’t send us to obedience school to learn new habits; he sends us to the hospital to be given a new heart. Forget training; he gives transplants. Do you understand what God has done? He has deposited a Christ seed in you. As it grows, you will change. It’s not that sin has no more presence in your life, but rather that sin has no more power over your life. Temptation will pester you, but temptation will not master you. What hope this brings!

It’s not up to you! Within you abides a budding power. Trust him!

“He who began a good work in you will carry it on to completion until the day of Christ Jesus” (Phil. 1:6 NIV.). God will do with you what I only dream of doing with Molly. Change you from the inside out. When he is finished, he’ll even let you sit at his table.

Packages Seo